Life Of Pi (2012) – REVIEW


Life_of_Pi_11

Pi Patel (Suraj Sharma) adalah remaja yang tinggal di Pondicherry, India. Karena pergolakan politik saat itu, sang ayah, Santosh Patel (Adil Hussain), memutuskan membawa keluarga kecilnya tersebut pindah ke Kanada.

Dengan memboyong seluruh penghuni yang mengisi kebun binatang mereka, keluarga Patel menumpang pada kapal barang milik Jepang. Namun sebelum mencapai Kanada, kapal tersebut karam akibat terjangan badai. Hingga hanya menyisakan Pi yang harus bertahan hidup bersama harimau Bengali bernama Richard Parker dalam sebuah sekoci.

LIFE OF PI adalah film yang luar biasa. Begitu keluar dari bioskop, kita tidak hanya akan merasa sudah diberi hiburan visual. Namun juga diberi hiburan untuk hati. Ang Lee, sutradara kelas Oscar asal Taiwan, berhasil menyajikan film yang diadaptasi berdasar novel Yann Martel ini dengan segenap perasaan. Sehingga penonton pun bisa turut merasakan guratan perasaannya.

Lihat saja paparan demi paparan dalam 127 menit durasinya. Kita, sebagai penonton, seolah diajak merenung tentang makna sebuah kehidupan. Tentang makna Tuhan yang kita sembah dan tentang banyak makna lagi yang bisa kalian tafsirkan sendiri. Tak heran batin kita akan dibuat bergolak hebat ikut merasakan betapa Tuhan tak pernah meninggalkan kita dalam setiap jengkal langkah. Malah, kitalah yang sering lalai meninggalkannya. Bukan begitu?

In my opinion, menonton LIFE OF PI serasa melakukan perjalanan spiritual. Keluar dari bioskop kalian akan ‘membawa’ sesuatu. Hal itulah yang mahal dan jarang terjadi.

Masih terekam ekspresi marah Orange Juice, orangutan yang sempat menemani Pi, saat pemuda itu diserang hyena di atas sekoci. Masih terekam saat mata sendu Richard Parker menatap Pi meminta pertolongan. Hingga ketika Richard Parker meninggalkan Pi sendirian, saya seperti ditampar. Coba bayangkan ketika kamu dengan susah payah menolong orang tapi tak pernah dihargai.

Kata Pi, sejauh apapun kita melangkah, Tuhan akan selalu ada, jangan pernah takut. Karena Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita mau.

Salut untuk kerja keras Ang Lee, untuk David Megee lewat olahan naskahnya, untuk Claudio Miranda lewat tata sinematografi yang memikat, untuk Mychael Danna untuk lagu-lagu yang menyejukan dan bersinergi dengan film serta Rhythm & Hues selaku visual effect company dan segenap tim produksi yang berhasil menghidupkan perjalanan Pi mengenal Tuhan lebih dekat dengan luar biasa.

Ternyata tak hanya mata yang bisa menangis. Tapi juga hati saya. Salah satu film luar biasa yang jangan sampai dilewatkan begitu saja.

Pos ini dipublikasikan di Trailer, Ulasan Film dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s